QRIS Memudahkan Bertransaksi, Omset UMKM di Semarang Meningkat
- TJ Sutrisno
"Lokasi usaha saya ini kan dekat kampus, jadi banyak mahasiswa yang mbayar pakai handphone, maka kita beri layanan pakai QRIS. Saat pembeli tidak membawa uang tunai pakai QRIS. atau membayar uang tunai tapi taka ada kembalian ya pakai QRIS ini," jelasnya sambil menunjuk stiker barcode QRIS yang tertempel di warungya.
Menurutnya, QRIS sangat membantu pembayaran. Selain itu, resiko menggunakan QRIS ini nyaris tidak ada. Beda dengan pembayaran cash yang beresiko hilang.
"Tapi tentu saja kita tetap menerapkan kedua-duanya, karena uang tunai rupiah dan QRIS saling melengkapi. Dan terus terang, QRIS ini membuat omzet jualan meningkat karena membuat orang milih beli di sini, pembayaran jadi cepat dan efektif. Apalagi kalau tanggal muda biasanya yang bayar tunai pakai uang besar, kita repot nyusuki (kembalian). Maka pakai QRIS lebih praktis," jelasnya.
Tak hanya Abdul Muis, para pelaku usaha kuliner yang merupakan UMKM di kawasan Kampus Undip hampir semuanya sudah menggunakan QRIS. Setiap warung tertempel stiker barcode QRIS untuk memudahkan pembeli melakukan scan barcode untuk membayar.
Hal ini membuat konsumen pun terlayani dengan baik, apalagi pembayaran digital saat ini sudah menjadi bagian hidup sehari-hari.
"Enak ya, nggak perlu repot bayar pakai uang. Ini keren sih, pedagang kaki lima, outlet-outlet makanan sudah banyak yang pakai QRIS. Jadi kita yang sudah biasa dengan uang digital ke mana-mana, bisa terlayani dengan baik," ungkap Neti, mahasiswa asal Bandung yang kuliah di Semarang.(TJ)