Stop Clickbait! Pakar Psikologi Digital Ingatkan Influencer Punya Tanggung Jawab Sosial

Ilustrasi netizen sedang membuat konten.
Sumber :
  • Ilustrasi AI

Viva Semarang – Arus informasi melalui media sosial oleh para influencer saat ini menjadi asupan harian masyarakat. Konten viral menjadi paling menarik untuk disimak hingga menjadi rujukan. Selain mudah dicerna, tak jarang mampu menggugah emosional audiens netizen.

Digital Wayfinding, Cara Mudah Temukan Layanan di Bandara Ahmad Yani Semarang

Namun demikian, ini menjadi masalah di era semua orang bisa jadi influencer. Muncul pertanyaan, pesan itu ditangkap dengan benar atau malah bikin gaduh?

Hal inilah yang disoroti Gary Collins Brata Winardy, M.Psi. seorang pakar dan akademisi psikologi digital dari Binus University Semarang. Ia mengamati bagaimana perkembangan media digital memengaruhi cara manusia belajar dan berinteraksi.

Wali Kota Agustina Dorong Layanan Pajak Makin Mudah dan Transparan Lewat Pemutakhiran Data Berbasis QR Code IQRO

Salah satunya tentang etika kreator media sosial yang semakin terkisis di era gempuran klikbait, overload serta fenomena influencer dan buzzer.

Fenomena Klikbait

Gubernur Jawa Tengah Meresmikan Grand Launching Mal Baru di Tepi Pantai Semarang

Sebagai dosen dan Subject Content Coordinator Psikologi Digital, Gary lebih menitikberatkan rasa tanggungjawab sosial kreator saat melempar konten di media sosial. 

"Klikkbait bukan salah, tapi lepas tangan itu masalah. Mengedukasi itu tugasnya nggak cuma ngasih informasi. Edukator harus klarifikasi. Memastikan info yang diberikan itu tepat dan ditangkap dengan tepat juga," katanya, kepada media Selasa 9 Juni 2026.

Ia menyoroti permasalahaan banyak konten kreator justru berlomba mengejar views dengan memakai judul menggemparkan, gambar reaksi heboh, tanda seru di mana-mana. 

"Manusia itu suka hal baru dan lebih tertarik pada yang punya muatan emosi. Kebijakan ini berbahaya,lebih menarik daripada pemerintah memutuskan perubahan fiskal," katanya.

Kata dia, setelah konten tayang dan dapat like, banyak yang langsung lepas tangan. Misi edukasi yang digemborkan terkaburkan. 

"Padahal idealnya ada klarifikasi, memastikan ditangkap ke arah yang benar. Jangan cuma mikir view dan like," tegas Gary.

Ia juga menyinggung perbedaan media dulu dan sekarang. Jika dulu koran terbit sehari sekali. Sekarang media harus update tiap jam. Akibatnya kualitas berita ikut berubah.

"Dengan buka sosial media, kita jadi lebih aware sama isu di luar sana sampai beranggapan isu di sekitar kita itu kecil. Padahal manusia punya level energi tertentu. Misal, kalau energi habis buat kasihan ke orang di Rusia atau Timur Tengah, bisa-bisa kita nggak punya energi buat care ke lingkungan sekitar," jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title