Noda Lionel Messi di Sepanjang Karirnya

Gol Lionel Messi dengan tangan di Liga Spanyol.
Sumber :
  • Tangkapan layar

Viva Semarang, Sepak Bola – Dunia sepak bola seperti telah dituntun untuk percaya pada sebuah narasi mutlak, bahwa Lionel Messi adalah sosok bintang yang cemerlang dan santun, tidak banyak bertingkah, dan sempurna. Label "Greatest of All Time" melekat begitu erat sebagai citra kapten Argentina itu.

Real Madrid Sikat Barcelona di El Clasico

Namun, jika lembaran sejarah dibuka tanpa kacamata kuda yang dipakai pemujanya, panggung megah sang megabintang ternyata dipenuhi bercak noda. Dan ini acap kali diabaikan demi menjaga kesucian sang idola.

Aksi pencurian panggung yang paling kasatmata berulangkali lahir dari Messi. Publik tentu ingat malam La Liga pada Juni 2007, ketika Barcelona menjamu Espanyol. Di saat orang-orang mengharapkan sihir dari kakinya, Messi justru melompat dan meninju bola ke dalam gawang menggunakan tangan kirinya. Wasit terkecoh, gol disahkan. Gol tangan Messi disambut sorak-sorai. Dan Messi pun merayakannta dengan gegap gempita seakan tak bersalah.

Real Madrid Tampil Menggila Hajar Leipzig 4-1, Bikin Barcelona Ketar-Ketir Jelang El Clasico

Keajaiban tangan Messi tidak berhenti di situ. Di ajang Copa America 2007, mantan wasit Carlos Chandia dengan gamblang mengakui pernah menyelamatkan Messi dari akumulasi kartu kuning akibat sengaja menyentuh bola di semifinal melawan Meksiko. Imbalannya sederhana namun menggelikan. Jersey Messi pun berpindah tangan ke wasit tersebut.

Jika Messi sportif dan elegan, ia sebenarnya bisa menghampiri wasit dan mengakui telah mencetak gol dengan tangan. Tapi itu tak dilakukan. Messi pun dicap oportunis, menghalalkan segala cara. Sebuah noda di hamparan karpet prestasi gemilangnya.

Barcelona Ternoda di Paris, Terlempar ke Posisi 5 Klasemen Liga Champions

Pola serupa terulang di panggung terakbar, Perempat Final Piala Dunia 2022 melawan Belanda. Ketika itu aksi handball dilakukannya dengan sengaja untuk memutus serangan lawan. Dan lagi-lagi menguap tanpa hukuman disiplin yang wajar. Hukum lapangan hijau mendadak bisa ditawar jika yang melanggar bernama Messi. 

Di luar urusan fisik dengan bola, cengkeraman Messi di ruang ganti juga memancarkan aura diktator terselubung. Sepanjang kariernya, sejumlah pelatih harus merasakan getirnya berhadapan dengan pengaruh sang kapten.

Krisis Piala Dunia 2018 menjadi contoh paling telanjang, saat internal Argentina mendadak retak usai dihajar Kroasia. Jorge Sampaoli dilucuti otoritasnya, dan isu pembangkangan pemain senior meruyak hingga susunan pemain di laga penentuan kabarnya diambil alih oleh ruang ganti, bukan sang pelatih.

Daftar juru taktik yang pernah mengelus dada tak berhenti di Sampaoli. Di Barcelona, Quique Setien terang-terangan mengakui betapa sulitnya mengatur sang megabintang, terutama setelah insiden Messi mengabaikan instruksi taktis Eder Sarabia saat jeda minum.

Jauh sebelum itu, pada 2015, Luis Enrique sempat merasakan dinginnya sikap Messi yang merespons keputusan mencadangkannya dengan memboikot latihan terbuka berdalih sakit perut. Ketika seorang pemain bisa menentukan kapan ia mau mendengarkan pelatih dan kapan ia boleh mangkir latihan, konsep hierarki klub jelas sudah kehilangan maknanya.

Bahkan terhadap media yang membesarkan namanya, sikap antikritik Messi pernah mencapai puncaknya. Pada November 2016, bergeming di depan puluhan mikrofon, ia memimpin seluruh skuad Argentina untuk melancarkan boikot media secara total. Dipicu oleh tuduhan jurnalis terkait dugaan konsumsi ganja oleh Ezequiel Lavezzi, Messi memilih membendung seluruh saluran komunikasi pers, menyisakan aksi mogok bicara yang kekanak-kanakan ketimbang menyelesaikan masalah secara elegan.

Meski begitu, harus diakui, deretan catatan hitam ini tidak akan menghapus ratusan gol atau puluhan trofi yang diraihnya. Namun, berbagai insiden tersebut menjadi sentilan yang cukup menggelitik. Di balik topeng kesantunan dan perlindungan istimewa dari para pengadil lapangan, Lionel Messi tetaplah manusia biasa yang tidak lepas dari kecurangan, ketidaksukaan pada aturan, dan hasrat untuk selalu memegang kendali. (TJ)