Dampak Kemarau Panjang, Puluhan Hektar Sawah Alami Puso
- Abc
Vivs Semarang – Fenomena El Nino atau musim kemarau panjang berdampak langsung pada sektor pertanian di Kabupaten Semarang. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang mencatat puluhan hektar lahan sawah mengalami kekeringan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Moh. Edy Sukarno, mengungkapkan bahwa dampak dari kemarau panjang, hingga saat ini terdapat sekitar 97 hektar lahan pertanian di wilayahnya yang mengalami kekeringan.
" Sampai hari ini, sekitar 97 hektar lahan mengalami krisis air di Kabupaten Semarang. Bahkan sebagian mengalami puso atau gagal panen," ujar Edy.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Edy menjelaskan bahwa pemerintah pusat maupun daerah telah menggencarkan berbagai program bantuan bagi para petani. Langkah utama yang diambil adalah mengoptimalkan pengairan melalui program irigasi perpipaan dan pompanisasi.
" Pemerintah pusat dan daerah saat ini banyak menggelontorkan bantuan dalam rangka meningkatkan pengairan bagi sawah dan tanaman pangan di Kabupaten Semarang," terangnya.
Program ini bertujuan untuk menarik air dari sumber mata air terdekat, baik sungai maupun sumber lainnya, agar dapat dialirkan ke area persawahan. Kendati demikian, ia mengakui bahwa tidak semua wilayah memiliki akses terhadap sumber air, sehingga hal tersebut menjadi tantangan tersendiri.
" Dampak paling terasa dialami oleh area persawahan tadah hujan yang ada di beberapa kecamatan. Hal ini mengakibatkan tidak tersedianya sumber air bagi lahan pertanian," imbuhnya.
Menurut Edy, musim kemarau kering ini mulai dirasakan sejak Agustus. Berdasarkan perkiraan, musim hujan baru akan mulai turun pada akhir November.
" Dampak dari kemarau panjang ini mulai terasa dalam dua bulan terakhir. Dan biasanya petani kita sudah mengantisipasinya, dengan mengganti tanaman padi dengan tanaman lain yang tidak membutuhkan banyak air," jelasnya.
Sementara untuk lahan pertanian yang memiliki fasilitas irigasi teknis, proses bercocok tanam masih dapat dilanjutkan. Edy menyebutkan bahwa pola tanam petani bervariasi ada yang bisa panen sekali, dua kali, hingga tiga kali dalam setahun tergantung pada ketersediaan sumber air di wilayah masing-masing.
Untuk wilayah yang terdampak kekeringan saat ini ada di 9 kecamatan. Meski demikian ancaman kekeringan ini, tidak mempengaruhi produktivitas hasil panen padi secara umum di Kabupaten Semarang, karena dampaknya masih sangat kecil.