Kejar Target Keselamatan, 900 Rumah Korban Tanah Gerak di Jateng Segera Direlokasi

Longsor di Kecamatan Mrebet dan Karangreja, Purbalingga.
Sumber :
  • Dok

Viva Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah memprioritaskan percepatan relokasi bagi warga yang terdampak bencana alam tanah gerak di berbagai wilayah rawan.

Polda Jateng Kirim 10 Truk Bantuan dan Tim Medis untuk Korban Gempa NTT

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengungkapkan bahwa saat ini tercatat ada 900 rumah yang mendesak untuk dipindahkan. Kabupaten Tegal menjadi wilayah dengan beban relokasi terbesar yakni mencapai 800 rumah yang berpusat di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara. Selain itu, relokasi juga menyasar 50 rumah di Purbalingga, 30 rumah di Pemalang, dan 20 rumah di Batang.

Langkah evakuasi permanen ini diambil bukan tanpa alasan. Tingginya curah hujan yang terus mengguyur wilayah Jawa Tengah membuat potensi bencana susulan semakin berlipat, sehingga pemindahan warga dari pengungsian ke hunian yang lebih stabil harus segera dilakukan.

Gempa Juga Mengguncang Banjarnegara Jawa Tengah Pada Sabtu Pagi

Gubernur menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan para bupati terkait penyediaan lahan. Saat ini, lahan aman di wilayah Perhutani telah disiapkan dan dinyatakan layak untuk dijadikan tempat tinggal baru bagi para penyintas.

Dalam proses perencanaan relokasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik rumah, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan ekonomi. 

Siap-siap Liburan! Weekend Ini Cuaca Jawa Tengah Cerah

Lokasi yang dipilih dipastikan tetap memiliki akses yang memadai untuk pendidikan anak-anak serta tidak memutus akses warga terhadap mata pencaharian mereka.

Selain itu, Dinas Sosial telah diinstruksikan untuk melakukan pendataan menyeluruh, mulai dari identitas, pekerjaan, hingga harta benda milik warga. Hal ini dilakukan guna menjamin transparansi agar tidak ada hak masyarakat yang hilang atau tercecer selama proses pemindahan berlangsung.

Namun, proses relokasi ini bukannya tanpa kendala. Sebagian warga masih merasa berat untuk meninggalkan tempat tinggal lama karena alasan pekerjaan dan harta benda yang tersisa. 

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi menggandeng unsur TNI dan Polri untuk memberikan edukasi secara humanis kepada masyarakat. Para kepala daerah juga diminta untuk terus melakukan pendekatan persuasif agar warga bersedia pindah demi keselamatan nyawa mereka sendiri.

Hingga saat ini, warga terdampak khususnya di Kabupaten Tegal masih tinggal di posko pengungsian dengan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar yang mencukupi.

Halaman Selanjutnya
img_title