Atasi Krisis Petani, Kab. Semarang Gencar Cetak Petani Muda Lewat Sekolah Tani Milenial

Pemkab Semarang Bersama Petani Milenial Panen Cabai Di Sumowono, Kab Semarang
Sumber :
  • Abc

Viva Semarang – Krisis regenerasi petani menjadi tantangan serius yang dihadapi Kabupaten Semarang. Di tengah semakin bertambahnya jumlah penduduk, jumlah rumah tangga usaha pertanian justru terus menurun, sementara mayoritas petani yang ada saat ini telah memasuki usia lanjut.

Pemkab Semarang Kembangkan Agroekosistem Berbasis Kawasan untuk Pulihkan Lahan Pertanian

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Semarang melalui Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan menggelar Sekolah Tani Milenial sebagai upaya menarik minat generasi muda untuk kembali menekuni sektor pertanian, tidak hanya sebagai petani, tetapi juga sebagai pelaku agribisnis.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, mengatakan berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, regenerasi petani perlu mendapatkan perhatian serius karena ketahanan pangan bermula dari keberadaan para petani.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026, Kekerasan Pada Anak Jadi Sorotan

" Kita perlu terus menambah jumlah petani milenial. Saat ini jumlah petani milenial baru 11,8%, petani tua kita sudah 77,8%. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, selama 10 tahun itu rumah tangga usaha pertanian kita sudah berkurang 10,27% di tengah penduduk kita terus bertamba," jelas Edy usai melakukan panen cabai bersama petani di Sumowono, Kab. Semarang (Selasa,21/7,2026).

Menurutnya, Sekolah Tani Milenial menjadi salah satu langkah nyata untuk mengubah pandangan anak muda terhadap dunia pertanian. Program ini telah berjalan sejak 2024 dan akan terus dilaksanakan setiap tahun.

Ancaman Kekeringan Melanda, BPBD Kabupaten Semarang Perkuat Mitigasi Lewat Inovasi Teknologi

" Oleh karenanya, kita adakan Sekolah Tani Milenial ini. Kita memotivasi generasi muda agar kembali mau terjun sebagai petani, baik di budidaya maupun agribisnis di seputar pertanian," ujarnya.

Pada angkatan tahun ini, program tersebut diikuti 240 peserta yang dibagi dalam enam kelas, masing-masing berisi 40 orang. Kegiatan difokuskan di enam kecamatan penghasil tembakau yang menjadi sasaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), seperti Sumowono, Pringapus, Bandungan, dan sejumlah kecamatan lainnya.

Tak hanya mengajarkan teknik budidaya, peserta juga dibekali kemampuan berwirausaha hingga pemasaran digital agar mampu menciptakan usaha pertanian yang lebih modern dan berdaya saing.

" Jadi ada dua yang kita berikan pada anak muda ini, yaitu technical skill tentang bagaimana bercocok tanam, yang kedua upgrading skill dengan penyampaian pengetahuan tentang berwirausaha, ada marketing digital, dan lain sebagainya," jelas Edy.

Halaman Selanjutnya
img_title