Pemkab Semarang Kembangkan Agroekosistem Berbasis Kawasan untuk Pulihkan Lahan Pertanian

Pemkab Semarang Kembangkan Agroekosistem Berbasis Kawasan untuk Pulihkan Lahan Pertanian
Sumber :
  • Dok

Viva Semarang – Perbaikan kualitas lahan pertanian mulai menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Semarang untuk menjaga produktivitas padi. Melalui Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Dispertanikap), upaya tersebut diwujudkan lewat program Pangan Berdikari yang mengedepankan intervensi agroekosistem terintegrasi berbasis kawasan.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026, Kekerasan Pada Anak Jadi Sorotan

Program ini dilatarbelakangi menurunnya kualitas lahan sawah akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dalam jangka panjang. Pada 2026, Dispertanikap menargetkan pola intervensi diterapkan di lahan seluas sekitar 6.258 hektare.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, menjelaskan Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, dipilih sebagai lokasi percontohan penerapan agroekosistem berbasis kawasan. Tahap awal yang dilakukan adalah memulihkan kondisi tanah melalui penggunaan pupuk alami atau organik.

Ancaman Kekeringan Melanda, BPBD Kabupaten Semarang Perkuat Mitigasi Lewat Inovasi Teknologi

" Untuk SK bupatinya ini sedang berproses. Target kita di tahun 2026 ini ada sekitar 6.258 hektar lahan yang akan kita lakukan pola intervensi sama dengan di Desa Kemetul," ungkapnya usai tanam padi, Selasa (28/7/2026).

Menurut Edy, perubahan pola budidaya tersebut tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mampu meningkatkan hasil panen. Produktivitas yang sebelumnya sekitar 6,2 ton per hektare kini dapat mencapai 9,2 ton. Selain itu, penerapan tanam serentak dalam satu kawasan terbukti efektif menekan serangan hama tikus. Pengalaman di Desa Kemetul menunjukkan dua musim panen terakhir berlangsung tanpa gangguan hama tersebut.

Kemudahan Layanan Jaminan Kesehatan Nasional Jadi Harapan Bagi Masyarakat

" Sudah kita praktekan di Desa Kemetul dan hasilnya hama tikus tidak ada di dua kali panen ini. Kita akan replikasi di seluruh kawasan tanaman pangan padi di Kabupaten Semarang," lanjutnya.

Di Desa Kemetul sendiri, sebanyak 21 petani mengelola sekitar 10 hektare sawah dengan konsep padi semi organik yang diarahkan menjadi beras sehat. Budidaya tersebut didukung sumber irigasi yang berasal langsung dari mata air, sehingga kualitas lahan dan tanaman lebih terjaga.

Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo mengatakan, budidaya padi semi organik telah dijalankan hampir tiga tahun. Selama periode tersebut, hasil panen terus menunjukkan peningkatan.

" Hampir 3 tahun ini untuk padi semi organik alhamdulillah dari tahun ke tahun kita ada peningkatan dari musim tanam hingga panen. Kemarin sebelumnya kami di 6,7 ton per hektar itu dengan catatan ada serangan hama. Terus alhamdulillah kemarin kita dipanen 9 ton," imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
img_title