Investasi Tembus Rp25,5 Triliun, Ekonomi Jawa Tengah Melesat Pada Triwulan Kedua Tahun 2026
- AI
Viva Semarang – Perekonomian Jawa Tengah tercatat tetap tumbuh kuat ditopang oleh kinerja solid sektor Industri Pengolahan dan Perdagangan dari sisi lapangan usaha pada triwulan kedua tahun 2026.
Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah ini diperkuat oleh kinerja Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau Investasi yang tumbuh 8,84 persen (yoy).
Tren bagus investasi ini didorong oleh realisasi modal yang meningkat dari Rp23,73 triliun pada triwulan II 2025 menjadi Rp25,53 triliun pada triwulan II 2026. Salah satunya ditopang oleh keberlanjutan pembangunan kawasan industri serta Proyek Strategis Nasional (PSN).
Di saat yang sama, Konsumsi Pemerintah melonjak hingga 15,69 persen (yoy) seiring akselerasi realisasi program-program prioritas nasional di daerah.
Sektor Industri Pengolahan yang memegang pangsa terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hingga 33,18 persen tumbuh melaju sebesar 5,03 persen (yoy) pada triwulan II 2026. Angka ini meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,04 persen (yoy).
"Akselerasi manufaktur ini dipicu oleh melonjaknya kinerja ekspor barang industri yang tumbuh hingga 41,26 persen year on year, terutama disokong oleh komoditas tekstil dan produk tekstil (TPT), kayu dan furnitur, alas kaki, serta bahan makanan, yang turut tecermin dalam perbaikan Saldo Bersih Tertimbang Survei Kegiatan Dunia Usaha," jelas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, Selasa (11/8/26).
Kinerja positif juga ditunjukkan oleh sektor Perdagangan yang tumbuh pesat sebesar 7,52 persen (yoy), melampaui capaian triwulan I 2026 sebesar 5,22 persen (yoy).
Peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor ini terdorong oleh mobilitas masyarakat yang naik 5,09 persen (yoy) di tengah momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha 2026 dan libur panjang.
Semarak gelaran Piala Dunia 2026 pada periode yang sama turut memberi impuls ekonomi signifikan melalui lonjakan penjualan produk korporat seperti jersei, aksesori, dan barang pendukung lainnya.
Sementara itu, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi mencapai 12,80 persen (yoy). Hal itu seiring tingginya okupansi hotel dan aktivitas bisnis kuliner selama masa liburan serta berlanjutnya program prioritas nasional. (TJ)