Influencer Asal Posting, Bisnis Jadi Hancur, Pelaku Usaha: Cek Fakta!
- TJ Sutrisno
Viva Semarang – Keberadaan influencer bagai pisau bermata dua. Bisa sebagai promosi pariwisata yang efektif, tapi juga bisa jadi bumerang jika konten yang dibuat tidak sesuai fakta.
Di dunia serba digital sekarang, informasi beredar dengan cepat oleh influencer sebagai prosesi maupun netizen yang mengejar viral. Namun menjadi fatal jika terjadi miss informasi atau miss leading pesan yang disampaikan.
Peran penting influencer dalam mempercepat arus informasi diakui oleh Sherly Tamoly, Event Manager Hotel Rooms Inc Semarang. Menurut Sherly, konten lifestyle dari influencer memang membantu mengerek okupansi dan menghidupkan wisata Kota Semarang.
Namun di sisi lain, banyak kreator yang membuat narasi “miss leading” sehingga menimbulkan miskomunikasi dengan calon tamu.
Sherly mencontohkan konten review fasilitas kamar hotel. Ada influencer yang datang untuk review maupun menginap dengan biaya sendiri, tapi prolognya terlalu dilebih-lebihkan.
“Namanya juga influencer sekarang banyak sekali. Apakah memang sesuai ahlinya atau ikut-ikutan ngonten. Tapi disayangkan jika miss leading,” ujar Sherly.
Ia menyebut ukuran room, kualitas tempat tidur, dan fasilitas lain sudah sesuai standar manajemen. Tapi narasi over act dari influencer membuat netizen ikut berkomentar berlebihan dan menimbulkan ekspektasi yang tidak tepat.
Dampak miss leading paling merugikan terjadi saat progres pembangunan DP Mall yang terintegrasi dengan Hotel Rooms Inc Semarang.
“Ada satu konten tentang pembangunan DP Mall yang menyebabkan beberapa tamu membatalkan reservasi. Mungkin mengira hotel tutup, parkir susah, dan lainnya. Padahal operasional hotel tetap berjalan normal,” jelas Sherly.
Contoh lain terjadi di Lawang Sewu. Pada 16 Mei 2026, konten viral di Instagram menyebut pengelola Lawang Sewu “anti kucing” dan akan membuang kucing liar serta memberi sanksi petugas yang memberi makan.
PT Kereta Api Pariwisata KAI Wisata langsung meluruskan. Manager of Asset Operation Moedji Setiono menegaskan tidak ada kebijakan pembuangan kucing maupun sanksi petugas.
“Kucing di Lawang Sewu bukan sekadar hewan liar. Mereka bagian dari ekosistem kawasan dan memberi nuansa hangat bagi pengunjung. Bahkan jadi alasan khusus sebagian wisatawan datang,” kata Moedji dalam pertemuan dengan komunitas Cat Lovers Semarang, beberapa waktu lalu.