Menjaga Jati Diri Lewat Panggung Budaya Kisah "Nyi Ageng Serang "
- Abc
Viva Semarang –Sorak tepuk tangan menggema setiap kali para pemain cilik menuntaskan adegan di atas panggung. Dengan balutan busana tradisional dan dialog penuh penghayatan, puluhan anak yang tergabung dalam sanggar budaya Condro Winoto, membawakan kisah kepahlawanan "Nyi Ageng Serang " yang ditampilkan dalam panggung budaya di Desa Kalongan, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Di balik setiap gerakan dan dialog yang mereka tampilkan, tersimpan harapan besar agar budaya Jawa tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
Sebanyak 80 anak dari Sanggar Candra Winoto mengikuti ujian pendadaran atau ujian kenaikan tingkat yang digelar bertepatan dengan masa liburan sekolah. Bagi mereka, panggung bukan sekadar tempat unjuk kemampuan, melainkan ruang belajar untuk mengenal sejarah, menghargai budaya, sekaligus menempa rasa percaya diri.
Pemilik Sanggar Condro Winoto R.Ngt. Eropeana Puspitasari
- Abc
Pendiri sanggar budaya Condro Winoto, R.Ngt Eropeana Puspitasari mengatakan, k
" Tahun ini, lakon yang dipilih mengangkat kisah perjuangan Roro Serang, seorang pejuang perempuan yang gigih mempertahankan Nusantara dari penjajahan Belanda. Kisah itu sengaja dipilih agar anak-anak tidak hanya mampu memainkan peran, tetapi juga memahami nilai keberanian, pengorbanan, dan kecintaan terhadap tanah air," jelasnya.
Pelaksanaan ujian saat liburan sekolah juga bukan tanpa alasan. Pola kegiatan di Sanggar Candra Winoto dibuat menyerupai sistem pendidikan formal. Setiap akhir tahun pembelajaran diisi dengan ujian pendadaran, dilanjutkan pembagian rapor, masa libur sanggar, hingga penerimaan murid baru.
" Tujuan kami mendirikan Sanggar Candra Winoto salah satunya adalah mengembalikan generasi muda yang sekarang ini sudah mulai kehilangan jati dirinya. Saya selalu menanamkan kepada anak-anak, 'Kalian lahir di tanah Jawa, besar di tanah Jawa, apa yang bisa kalian berikan untuk tanah Jawa?'" ungkapnya.
Pesan sederhana itu terus ditanamkan kepada setiap murid. Budaya, menurutnya, bukan sekadar warisan yang dikenang, tetapi identitas yang harus dipahami dan dijaga oleh generasi penerus.