Curug Lawe, Rekomendasi Ecotourism Bersih dan Bebas Sampah di Semarang

Air terjun Curug Lawe Semarang bagai hidden gem.
Sumber :
  • IG @curuglawe_kalisidimoreclean

Viva Semarang, Wisata – Bagi para pencinta perjalanan yang mencari keseimbangan alam, Curug Lawe di lereng Gunung Ungaran bisa jadi pilihan. Destinasi ecotourism imi menawarkan wisata petualangan autentik sekaligus inspiratif.

Curug Lawe: A Pristine and Litter-Free Ecotourism Destination in Semarang

Curug Lawe tersembunyi di balik hutan Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Air terjun ini bukan sekadar objek wisata biasa. Tempat ini menyuguhkan perpaduan keindahan alam, konservasi kawasan hutan, serta pengalaman trekking yang membakar semangat.

Dan yang membuat kagum, Curug Lawe bersih dan bebas sampah.

Panduan Lengkap ke Desa Penglipuran Bali: Nikmati Ecotourism Bebas Sampah, Kulineran Khas, dan Serba QRIS!

Harmoni Alam dan Konservasi

Mengusung konsep ekowisata (ecotourism), kawasan Curug Lawe dikelola dengan menekankan perlindungan ekosistem tanpa mengorbankan kenyamanan pengunjung. Air terjun setinggi sekitar 30 meter ini dikelilingi tebing melingkar menyerupai benteng alami, ditutupi rimbunnya vegetasi hijau yang tebal.

Air Terjun Terdekat dari Gunung Andong, Habis Muncak Bisa Segar-segaran!

"Nama Lawe diambil dari benang-benang halus air yang jatuh terurai dari puncak tebing, menyerupai benang putih," kata Mujahidin, petugas di Curug Lawe.

Di sepanjang jalur penjelajahan, wisatawan tidak hanya disuguhkan udara pegunungan yang kaya oksigen, tetapi juga keanekaragaman hayati yang masih terjaga.

Jika beruntung, Anda dapat menjumpai Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang bergelantungan bebas di ranting pepohonan. Ini menjadi bukti bahwa kawasan ini masih menjadi rumah aman bagi fauna lokal.

Nilai Ekowisata di Curug Lawe

Prinsip "Leave No Trace" (Tanpa Jejak) sangat dijunjung tinggi di sini. Pengunjung diimbau untuk tidak meninggalkan sampah sekecil apa pun, mematuhi jalur resmi, serta menjaga ketenangan agar tidak mengganggu habitat satwa liar.

Di sepanjang jalur terdapat tempat sampah yang terbuat dari bahan daur ulang. Yang menarik, ada sebuah monumen dari cabang pohon untuk menaruh sandal dan sepatu yang rusak atau terbawa air.

"Ini kejutan ya. Bersih dan ada tempat sampah yang unik," puji Safira, wisatawan adalah Salatiga.

Petualangan Menyusuri Jalur Hujan Hijau

Untuk mencapai titik utama air terjun, petualangan dimulai dari area parkir dengan melintasi trek berjalan kaki sekitar 1 jam. Jalur yang dilalui membelah perkebunan teh cengkeh, hutan tropis, hingga menyeberangi jembatan kayu ikonik yang dikenal sebagai Jembatan Merah.

Halaman Selanjutnya
img_title