Spanyol Juara, Bertarung Bagai Laga MMA

Spanyol jatuh bangun melawan Argentina di final Piala Dunia 2026 yang keras.
Sumber :
  • Reuters

Viva Semarang, Sepak Bola – Tim Nasional Spanyol sukses meraih gelar juara Piala Dunia 2026 setelah melalui pertarungan keras yang menguras fisik dan mental. Mereka harus bertarung layaknya sebuah laga Mixed Martial Arts (MMA).

Borussia Mönchengladbach Bangga Kevin Diks Bawa Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Dalam pertandingan final yang berlangsung dengan tensi sangat tinggi tersebut, skuad Matador dipaksa jatuh bangun, bahkan beberapa kali terlihat terbang terjungkal ke tanah akibat kerasnya pelanggaran yang terus-menerus dilancarkan oleh para pemain Argentina.

Insiden fisik yang menjurus kasar tersebut tidak terjadi satu atau dua kali saja di sepanjang laga. Bahkan ketika bola tidak berada dalam jangkauan permainan, para penggawa Tim Tango terus melancarkan provokasi fisik berupa senggolan keras serta sikut tersembunyi yang kerap luput dari pandangan mata wasit. Kendati demikian, sepintar-pintarnya para pemain Argentina menyembunyikan tindakan tidak sportif mereka, ketegasan kepemimpinan di lapangan hijau tetap berpihak pada keadilan olahraga.

Bangganya Klub Fortuna Sittard Pada Justin Hubner dan Ole Romeney yang Bawa Indonesia Juara

Wasit utama yang memimpin jalannya laga, Slavko Vincic, bertindak sangat tegas demi melindungi integritas pertandingan. Puncaknya terjadi pada masa krusial babak kedua, tepatnya menit ke-90+3, ketika gelandang Argentina Enzo Fernandez melakukan pelanggaran keras yang berujung fatal bagi timnya. Bek Spanyol Pau Cubarsi sampai terbang dan terjungkal ke tanah akibat pelanggaran itu.

Tanpa keraguan sedikit pun, Vincic langsung melayangkan kartu kuning kedua yang disusul dengan kartu merah kepada Fernadez. 

Rayo Vallecano Langsung Unggah Foto Besar Audero, Ucapkan Selamat Untuk Indonesia Juara!

Kartu itu memaksa Argentina bermain dengan 10 orang yang membuat perjuangan Argentina kian berat dalam membendung dominasi taktis yang diterapkan Spanyol.

Data statistik resmi pertandingan mengonfirmasi betapa dominannya Spanyol sekaligus menggambarkan kerasnya jalannya laga yang membuat punggawa mereka terkapar berkali-kali.

Sepanjang pertandingan, Spanyol memegang penuh kendali permainan dengan penguasaan bola mencapai 68 persen, melakukan aliran operan sebanyak 803 kali dengan akurasi 90 persen. Spanyol juga melakukan 20 tembakan dengan 11 di antaranya tepat mengarah ke gawang.

Sebaliknya, Argentina yang bermain di bawah tekanan luar biasa hanya mampu mencatatkan 32 persen penguasaan bola, dan 445 operan dengan akurasi 78 persen. Argentina sama sekali tidak melakukan satu pun tembakan tepat sasaran ke gawang Spanyol dari 3 percobaan yang ada.

Argentina bermain sangat agresif dengan melakukan 24 kali pelanggaran dan menerima total 5 kartu kuning serta 1 kartu merah. Tapi para pemainnya tampak seolah tanpa dosa dan konsisten melayangkan protes kepada wasit pada setiap keputusan pelanggaran. Skuad Argentina bertindak seolah seluruh tindakan keras yang mereka lakukan di lapangan selalu benar.

Provokasi itu membuat Spanyol pun ikut terbawa ritme keras dengan melakukan 21 pelanggaran walau tanpa satu pun ganjaran kartu.

Ketangguhan mental Spanyol membuahkan hasil manis pada babak perpanjangan waktu menit ke-106, ketika Ferran Torres berhasil memecah kebuntuan lewat gol semata wayang yang mengunci kemenangan tipis 1-0 sekaligus menahbiskan Spanyol sebagai juara Piala Dunia 2026.