Argentina Terkena Kutukan Piala Dunia
- Reuters
Viva Semarang, Sepak Bola – MetLife Stadium menjadi saksi runtuhnya Argentina di Piala Dunia 2026. Langkah tim Tango terhenti setelah takluk 0-1 dari Spanyol pada partai final. Gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu memupuskan harapan Argentina.
Kekalahan Argentina menegaskan mitos kutukan Piala Dunia bagi juara bertahan. Argentina sudah dua kali merasakan hal ini. Tahun 1986 Argentina juara. Tapi pada edisi berikutnya di tahun 1990, Argentina yang sudah masuk final ternyata tumbang oleh Jerman Barat.
Dan tahun 2026 ini, Argentina yang menjadi juara bertahan Piala Dunia 2022, mendapatkan kesempatan lagi untuk mempertahankan gelar. Tapi gantian Spanyol yang menumbangkan Argentina.
Kutukan Piala Dunia untuk juara bertahan sudah dimulai pada Piala Dunia pertama tahun 1930. Hanya Brasil yang mampu melakukannya pada tahun 1962. Brasil di era Pele itu mampu mempertahankan gelar juara yang diraihnya pada tahun 1958.
Brasil menjadi satu-satunya tim yang bisa back to back hingga kini.
Di era Modern, beberapa tim besar tidak mampu melakukannya. Contohnya, Jerman yang juara Piala Dunia tahun 2014 bahkan hancur lebih di babak grup pada Piala Dunia 2018, dan mengulanginya di tahun 2022.
Prancis nyaris menembusnya pada tahun 1922. Prancis yang menjuarai Piala Dunia 2018 tumbang di final oleh Argentina saat pintu juara sudah di depan mata. Tapi adu tendangan penalti meluluhtakkan semuanya.
Hasil di Piala Dunia 2026 ini juga nyaris sama. Argentina yang tampil sebagai juara bertahan tak berdaya di hadapan Spanyol.
Sehingga ekor bersejarah ini masih tetap dipegang Brasil sebagai negara yang sanggup mengawinkan gelar juara dunia secara beruntun.
Meskipun demikian, nasib Argentina masih terbilang lebih baik jika dibandingkan dengan para juara bertahan dari edisi-edisi terdahulu. Mayoritas tim yang datang dengan status pemegang gelar justru langsung gugur secara mengejutkan di fase grup. Argentina setidaknya mampu melangkah hingga laga pamungkas sebelum akhirnya tunduk di tangan Spanyol.
Sejarah mencatat sejumlah negara besar yang pernah merasakan hancurnya performa akibat fenomena tersebut. Prancis pada Piala Dunia 2002 datang sebagai jawara edisi 1998 dan Euro 2000, namun langsung tersingkir di fase grup tanpa berhasil mencetak satu gol pun usai menelan kekalahan dari Senegal dan Denmark.