Rumah Warga Demak Hancur dan Hanyut Akibat Banjir Sungai Tuntang

Banjir di Demak akibat luapan Sungai Tuntang.
Sumber :
  • Dok

Viva Semarang – Warga terdampak banjir di Kabupaten Demak mulai mengeluhkan kondisi hunian mereka yang mengalami kerusakan berat setelah terjangan banjir sejak Jumat (3/4/26). Salah satu korban, Ma’arif (39), mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen konstruksi rumahnya hancur, bahkan rumah milik orang tuanya hanyut tanpa sisa akibat derasnya arus.

Jangan Ngeyel Naik ke Merapi, Lava Panas Terus Berguguran

"Sebagian besar harta benda warga turut hilang terbawa air, di mana kerugian untuk satu unit rumah kayu diperkirakan mencapai 80 juta belum termasuk isinya," katanya.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa saat ini warga membutuhkan bantuan tenaga dan alat untuk mencari puing-puing bangunan . Mereka juga butuh bantuan tenaga untuk membersihkan material yang tertimbun lumpur pekat.

PLN Hadirkan Promo Tambah Daya 50 Persen Sampai Tanggal 25 Agustus 2025

Banjir di Demak dipicu oleh jebolnya tanggul Sungai Tuntang di tiga titik, tepatnya di Desa Trimulyo dan Sidoharjo. Luapan air tersebut merendam pemukiman di sembilan desa yang tersebar di Kecamatan Guntur, Wonosalam, Karangtengah, dan Kebonagung, dengan total warga terdampak mencapai 5.148 jiwa.

Meskipun genangan di sebagian besar wilayah mulai surut dan jumlah pengungsi kini hanya tersisa 12 jiwa di Madin Sindon, ancaman banjir susulan masih membayangi. Sebuah titik tanggul yang belum tertutup sempurna sempat kembali melimpas dan menggenangi Dukuh Solondoko, sehingga petugas segera melakukan perbaikan darurat.

Pemprov Jateng Buka Beasiswa Mahasantri, Angkanya: Rp1 Juta per Semester

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukan hanya rehabilitasi fisik, melainkan juga pembenahan menyeluruh pada sistem pengendalian banjir agar bencana serupa tidak terus berulang di masa depan.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan penanganan komprehensif untuk memastikan keamanan wilayah tersebut dalam jangka panjang.

Sebagai langkah awal pemulihan, bantuan mulai mengalir kepada warga, termasuk program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk tujuh unit rumah, ratusan paket sembako dari Baznas Jateng, serta dana bantuan dari PMI Jateng.

“Sudah kita asesmen. Tinggal kita petakan lagi secara detail, kita hitung kebutuhannya apa saja. Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama-sama antara kabupaten, provinsi, dan juga pemerintah pusat,” kata Taj Yasin.