Apa Itu Batuk Rejan, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
- laman RSUD Ir. Soekarno Babel
Viva Semarang, Kesehatan – Pernah panik karena anak menderita batuk yang tak kunjung reda? Orang tua yang punya balita tentu akan khawatir saat menyadari bahwa anaknya batuk yang berkepanjangan.
Ada beberapa macam penyakit batuk yang perlu diketahui, salah satunya adalah batuk rejan.
Mengutip dari lama resmi Kementerian Kesehatan RI, batuk rejan atau pertusis adalah jenis infeksi saluran pernafasan yang sangat menular. Penyakit ini ditandai dengan batuk yang diiringi suara tarikan nafas tinggi yang khas dan berkepanjangan.
Batuk rejan adalah salah satu kondisi yang mengkhawatirkan pada anak di bawah usia 2 tahun jika tidak ditangani.
Ciri dan Penyebab Batuk Rejan
Batuk rejan biasanya terjadi terus-menerus diiringi suara tarikan nafas yang khas. Batuk jenis ini lebih sering terjadi pada malam hari, mata yang tampak merah, kulit kebiruan, kesulitan bernapas, batuk terus-menerus, dah disertai dahak dan muntah.
"Penyakit ini biasanya disebabkan oleh bakteri bordetella pertussis, tetapi juga bisa disebabkan oleh bakteri Bordetella parapertussis," demikian dijelaskan Kemenkes.
Penularan batuk rejan terjadi melalui droplet atau partikel air kecil dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi. Orang yang menghirup partikel mengandung bakteri di udara bisa rentan kena batuk rejan.
Gejala Batuk Rejan
Batuk rejan bisa berlangsung selama satu setengah bulan. Pada fase awal biasanya terjadi gejala hidung tersumbat, pilek, bersin, mata merah, dan demam.
Yang kedua adalah fase paroksismal yang ditandai dengan batuk berkepanjangan yang perlahan-lahan mereda, tapi bisa berlangsung satu hingga dua Minggu.
Jika tidak ditangani, batuk rejan bisa menyebabkan komplikasi, antara lain dehidrasi, kesulitan bernapas, penurunan berat badan, pneumonia kejang, gangguan ginjal, dan kurangnya pasokan oksigen ke otak.
Dan yang ketiga adalah face penyembuhan yang terjadi setelah batuk berlangsung pada Minggu ke 4 hingga ke 6.
Gejala batuk rejan mirip dengan penyakit saluran pernapasan lainnya, seperti pilek biasa, influenza, dan bronkitis.
Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC), pasien yang mengalami batuk lebih dari 3 minggu disarankan untuk menjalani pemeriksaan lebih intensif oleh dokter.