SMC RS Telogorejo Beri Edukasi Epilepsi Kebal Obat pada Anak dan Remaja
- Abc
Viva Salatiga – SMC RS Telogorejo melalui Telogorejo Neuro Center memperluas edukasi kesehatan kepada masyarakat dengan menggelar Seminar Awam dan One on One Consultation bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja”, di Hotel Wahid Prime, Salatiga, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya orang tua, mengenai epilepsi yang kejangnya masih berulang meski telah mendapatkan pengobatan.
Dokter spesialis bedah saraf konsultan Neurofungsional sekaligus ahli bedah epilepsi yang berpraktik di SMC RS Telogorejo Semarang, Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D, Sp.BS(K), mengatakan sekitar 30 persen kasus epilepsi tergolong sulit diobati atau disebut epilepsi kebal obat (EKO).
" Perlu diketahui, 30% epilepsi sulit diobati dan disebut EKO. Dan, bedah epilepsi atau be dikembangkan untuk menolong EKO yang lokasi fokus epilepsi kejangnya di otak bisa diketahui atau bisa dipastikan. Sehingga, untuk memastikan letak fokus epilepsi perlu melihat bentuk kejang atau lewat video berulang foto mri yang lebih baik dan EEG 2 jam," paparnya.
Menurutnya, kejang yang terus berulang pada anak perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap perkembangan dan kualitas hidup. Karena itu, pasien dengan kejang berulang meski telah menjalani terapi perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Seminar tersebut turut menghadirkan dr. Tun Paksi Sareharto, M.Si.Med, Sp.A(K), spesialis kesehatan anak subspesialis neurologi, Joko Pratomo, S.Psi, psikolog klinis, serta Stephanie Claudia Kamadjaja, seorang epilepsy survivor yang membagikan pengalaman dari perspektif pasien.
Direktur Pemasaran SMC RS Telogorejo, Diana Loretta, mengatakan kegiatan di Salatiga merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk mendekatkan edukasi kesehatan yang kredibel kepada masyarakat.
“ Kami ingin masyarakat, khususnya para orang tua, mendapatkan informasi mengenai epilepsi langsung dari tenaga medis yang kompeten. Ketika seorang anak masih mengalami kejang berulang meskipun sudah menjalani pengobatan, keluarga perlu mengetahui bahwa kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut. Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka akses informasi sekaligus membantu masyarakat memahami langkah penanganan yang tepat,” ujar Diana.