Apa Perlu Piala Dunia Diikuti 62 Peserta Agar Italia Lolos?
- FIFA
Viva Semarang, Sepak Bola – Publik sepak bola Italia sedang dalam suasana yang sulit dijelaskan. Ada yang marah, malu, geram, hingga sulit menggungkapkan kata-kata lagi. Mereka nyaris tak percaya, Timnas Italia lagi-lagi tidak lolos Piala Dunia. Si penggusur lagi-lagi tim papan bawah ranking FIFA. Kalau empat tahun lalu Italia kalah dari Makedonia Utara, kali dibekuk Bosnia-Herzegovina.
Tapi jika publik Italia marah, maka publik mungkin saja bereaksi beda. Atau malah geli. Bagaimana tidak, Italia tidak lolos bahkan ketika jumlah peserta diperbanyak menjadi 48 tim. Kurang apa coba?
Bayangkan saja, sebuah negara dengan empat gelar Piala Dunia harus kalah dari tim yang kelasnya sangat jauh di bawahnya. Italia berlabel harga 14 triliun kalah sama Bosnia yang cuma punya harga pasar skuadnya 2,2 triliun.
Dengan segala keunggulannnya yang bagai langit dan bumi, Italia terbang ke Bosnia-Herzegovina dengan optimisme tinggi. Mereka yakin bisa mengatasinya kali ini. Beda dengan empat dan delapan tahun lalu.
Tegang wajar, tapi trauma masa lalu harus dihapuskan demi Piala Dunia.
Dan laga pun sepertinya akan menjadi milik Italia. Dan itu terbukti di menit ke 15, Moise Kean sukses memanfaatkan kesalahan kiper Bosnia menjadi gol.
Laga berlanjut. Dan Italia terus mendikte lawan. Ball possesion dan alur serangan dikuasi Italia, setidaknya hingga menit ke 41.
Tapi semua berubah setelah Alessandro Bastoni melakukan pelanggaran keras terhadap penyerang Bosnia. Tackle terlambat Bastoni membuat penyerang Bosnia jatuh saat punya posisi bagus untuk mencetak gol. Wasit tak ragu. Langsung mengusir Bastoni. Italia pun mulai goyah.
Pelatih Gli Azzurri Genaro Gattuso mengubah strategi. Ia memasukkan Gatti untuk menyeimbangkan tim. Tapi Bosnia terlanjur bangkit dengan keunggulan jumlah pemain.
Babak kedua perlahan menjadi milik Bosnia. Penguasaan bola pelan-pelan beralih. Angin kini ada di Bosnia Herzegovina.
Bermain dengan sepuluh orang, Italia mendadak berubah menjadi tim yang galau. Kiper sekaligus kapten Italia Gianluigi Donnarumma bagai pekerja serabutan tanpa istirahat. Ia harus terus menahan gempuran serangan Bosnia. Tercatat, ada 9 penyelamatan yang ia lakukan di waktu normal.