Piala Dunia yang Memalukan di Tanah Amerika

Wasit memberikan kartu merah kepada pemain Swiss Embolo saat berlaga melawan Argentina.
Sumber :
  • Reuters

Viva Semarang, Sepak Bola – Turnamen empat tahunan yang katanya sakral telah berubah wujud menjadi panggung komedi. Piala Dunia 2026 di tanah Amerika sukses mengukir sejarah. Bukan karena keindahan sepak bolanya, tapi karena serangkaian keputusan ajaib dari wasit, Video Assistant Referee (VAR), dan FIFA.

Pemain Argentina Cabut dari Tottenham, Berlabuh ke Atletico Madrid

Tampaknya para perangkat ini butuh diperiksa ulang fungsi penglihatannya. Batasan antara aneh, kebetulan, atau disengaja, sangat tipis. Karena dari sekian banyak drama wasit dan VAR, arah angin keberuntungan selalu bertiup kencang ke satu arah yang sama, yaitu Argentina.

Mari kita bedah satu per satu korban dari kemurahan hati para pengadil lapangan yang luar biasa ini.

PSG Juara Piala Super Eropa Setelah Sikat Aston Villa

Korban pertama adalah Mesir, yang dipaksa menelan pil pahit. Perlawanan gigih mereka diredam bukan oleh taktik lawan, melainkan oleh keputusan gaib yang dihadiahkan kepada Argentina.

VAR yang biasanya sangat cerewet memeriksa hal-hal kecil, tiba-tiba mengalami gangguan sinyal saat Mesir dilanggar Argentina. Tapi sinyal tiba-tiba kencang saat Argentina dirugikan, sehingga kejadian di lapangan harus dicek ulang. Dan hasil bisa ditebak, Argentina yang untung.

Daftar Pemain Argentina di Liga Inggris, Siap-siap Dibully

Hal serupa menimpa Swiss, yang harus pulang dengan kepala pening setelah gol bersih mereka dianulir karena pelanggaran beberapa menit lalu dan jauh di ujung lapangan belakang. Sementara tekel keras pemain Argentina di kotak terlarang hanya dianggap sebagai "kontak fisik ramah tamah" oleh wasit.

Anehnya, ada keputusan wasit yang dianggap salah identifikasi. Wasit meniup tanda pelanggaran oleh pemain Argentina, dan diberi kartu kuning. Tapi setelah laga berjalan beberapa menit, wasit tiba membatalkan keputusan pelanggaran tadi, dan malah berbalik menyalahkan pemain Swiss. Akibatnya, kartu kuning Argentina dibatalkan, dan dialihkan kepada pemain Swiss yang dianggap pura-pura jatuh. Hasilnya, pemain Swiss itu diberi kartu merah karena sebelumnya sudah mengantongi kartu kuning. Swiss pun bermain 10 orang.

Puncaknya dirasakan oleh Inggris. Pertemuan klasik ini dinodai oleh keputusan wasit yang dianggap berat sebelah. Injakan kaki Messi kepada bek Inggris dibiarkan wasit. Injakan Messi itu membuatnya leluasa menguasai bola dan memberi umpan ke gawang dan disundul penyerang Argentina menjadi gol.

Halaman Selanjutnya
img_title