Kisah Dibalik Berdirinya Masjid Menara Kampung Layur Semarang, Ternyata Bekas Mercusuar
- TJ Sutrisno
Viva Semarang – Masjid Menara Layur berada di sebuah sudut kampung di tepi Kali Semarang. Di sinilah dulu para pedagang dari berbagai bangsa membawa hasil bumi maupun barang-barang kebutuhan lainnya pada masanya.
Masjid Menara dikenal juga dengan sebutan Masjid Melayu karena pada perkembangannya daerah ini menjadi kampung warga keturunan suku Melayu.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol percampuran budaya dan sejarah panjang perdagangan di Kota Semarang.
Lalu, mengapa Masjid ini disebut Masjid Menara?
Menilik ke belakang, Masjid ini didirikan pada tahun 1802, Masjid Menara Layur merupakan salah satu masjid tertua di Semarang. Kawasan ini dulunya merupakan dermaga penting tempat bersandarnya kapal-kapal pedagang dari berbagai penjuru dunia, terutama dari Arab, Gujarat India, dan Melayu.
Di dermaga itulah, pada masanya dibangun mercusuar sebagai panduan bagi kapal-kapal untuk mendarat di pelabuhan Kali Semarang tersebut.
Dan kini setelah pelabuhan pindah dan kawasan ini berangsur-angsur jadi pemukiman, mercusuar tidak digunakan lagi. Warga kemudian memanfaatkannnya menjadi menara masjid, sehingga masjid di Kampung Melayu disebut dengan Masjid Menara.
Arsitektur masjid ini mencerminkan keberagaman tersebut melalui perpaduan gaya:
Arsitektur Masjid Menara
Arsitektur Masjid Menara disebut-sebut memadukan tiga budaya yaitu Jawa, Melayu, dan Arab. Gaya Jawa terlihat dari atap tumpang (bersusun) yang menjadi ciri khas bangunan tradisional Jawa.
Gaya Melayu tampak pada pada dekorasi dan tata ruang yang sederhana namun fungsional
Sedangkan gaya Arab dan Timur Tengah terlihat jelas pada ornamen pintu dan jendela. Juga menara yang menjulang tinggi di bagian depan masjid. Seperti disebutkan tadi, ciri khas utama masjid ini adalah menaranya yang berdiri terpisah di depan bangunan utama. Pada masa kolonial, menara ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan, tetapi juga sebagai menara pengawas atau mercusuar untuk memantau lalu lintas kapal di Kali Semarang yang berada tepat di sampingnya.
"Sekat jendela ini bergaya Timur Tengah," kata Haji Ali, takdir Masjid Menara Semarang.
Bangunan Panggung
Karena letaknya yang dekat dengan sungai dan laut, Masjid Layur sering menghadapi tantangan banjir rob. Masjid ini dibangun dengan konsep panggung dua lantai. Saat ini, lantai dasar sudah tidak digunakan untuk salat karena sering tergenang air, sehingga aktivitas ibadah dilakukan sepenuhnya di lantai dua yang lebih tinggi.