Jejak Muslim Gujarat di Pekojan Semarang, Kalau Lebaran Makan Nasi Kebuli Bersama

Suasana di Masjid Pekojan Semarang yang dibangun muslim Gujarat.
Sumber :
  • TJ Sutrisno

Viva Semarang – Pada masanya dulu, para pedagang dari daratan Gujarat berlayar menuju ke nusantara. Mereka berlabuh di beberapa lokasi di Pulau Jawa. Salah satunya di Semarang yang waktu itu masih berada di koloni Hindia Belanda.

KAI Daop 4 Semarang Angkut Hampir 100 Ribu Penumpang Hanya Dalam 3 Hari Arus Balik Lebaran

Selain berdagang mereka juga membawa ajaran Islam, sehingga mereka meninggalkan jejak Islam di tempat persinggahan.

Pedagang Gujarat yang merupakan keturunan Pakistan-India, kemudian bermukim dan kawin mawin dengan warga lokal. Nah, keturunan kawin campur itu kemudian disebut orang Koja. Maka kampungnya pun disebut Pekojan.

Nikmati Libur Lebaran, Wisatawan dari Berbagai Daerah Ramaikan Saloka Theme Park

Mereka tinggal di beberapa kampung yang berpusat di kawasan Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah. Antara lain di Kampung Begog, Kampung Suburan, Kampung Wotprau, dan di Petolongan.

"Termasuk saya ini juga keturunan Gujarat. Jadi saya ini orang Koja," kata Agus Salim membuka cerita dengan Viva di teras Masjid Pekojan.

Korlantas Polri Akan Flag off One Way Nasional Arus Balik Hari Minggu

Ia menceritakan, naluri dagang orang Koja masih tetap kuat seperti nenek moyang dulu. Hal itu bisa dilihat pada sebagian besar orang Koja di Semarang yang bekerja sebagai pedagang.

"Terutama dagang jam dan kacamata. Ada juga yang punya usaha kuliner, tapi kebanyakan usaha jam tangan dan kacamata, termasuk reparasi," ungkapnya Agus Salim yang berjualan kacamata di Pasar Johar.

Halaman Selanjutnya
img_title