Kisah Sukses Petani Buah Andaliman di Samosir Bersama Program Desa Sejahtera Astra

Buah andaliman dari DSA Garoga Samosir.
Sumber :
  • Paguyuban KBA

Viva Semarang –  Jatuh bangun petani buah andaliman di Pulau Samosir, Sumatera Utara berbuah manis. Didukung Program Desa Sejahtera Astra, petani pun bisa mengekspor banyak buah andaliman ke Eropa. Berikut kisahnya.

Pemkot Semarang Komitmen Dorong UMKM Bisa Ekspor Produk ke Luar Negeri

Adalah tekad Kiki Andrea untuk meyakinkan petani lokal di Desa Garoga, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara agar menekuni budidaya buah andaliman.

Andaliman adalah buah yang tumbuh di perbukitan Samosir dekat Danau Toba Sumatera Utara. Buah ini ukurannya kecil mirip lada. Makanya sering disebut juga lada Batak.

Ekonomi Jawa Tengah Tumbuh 5,37 Persen di Triwulan III 2025

Andaliman dipakai untuk bumbu masakan khas masyarakat Batak di Samosir. Jika masih buah basah, rasa andaliman getir. Tapi begitu dijadikan bumbu, membuat masakan menjadi sangat sedap.

Singkat cerita, pada tahun 2015, Kiki Andrea yang berprofesi sebagai pemandu wisata di Samosir bertemu wisatawan asal Swedia yang makan di warung milik keluarga Kiki. Wisatawan itu penasaran dengan citarasa buah andaliman yang menjadi bumbu masakan di warung makan tersebut.

Karoseri Bus Laksana Asal Jawa Tengah Ekspor Bus ke Sri Lanka

Ia pun meminta Kiki untuk membuat andaliman kering dan dikirim ke rumah wisatawan itu di Swedia.

Kiki pun menyanggupinya. Ia kemudian melakukan percobaan pengeringan bersama petani. Sampai kemudian ia bisa menghasilkan andaliman kering lalu dikirimkan ke Swedia.

"Ia bertanya pada saya, apakah kamu tahu andaliman? Saya bilang, iya saya tahu andaliman. Terus dia tanya lagi, apakah kamu bisa mbuat andaliman kering? Saya bilang bisa, padahal saya nggak bisa, yakin dulu aja. Lalu saya cari petani andaliman di Samosir. Kita coba keringkan dan kita kirim ke Swedia. Dan turis itu bilang, ini luar biasa. Itulah awal mulanya," cerita Kiki dikutip dari Channel YouTube Paguyuban KBA.

Turis itu kemudian minta kiriman lagi. Kiki pun menghubungi para petani di Samosir untuk diajak mengolah andaliman kering. Kiki sudah memprediksi, bahwa hasil yang akan dicapai akan mampu menyejahterakan petani. Karena andaliman yang harganya murah karena merupakan bumbu biasa di Samosir, ternyata dihargai tinggi di Eropa.

Bayangkan, andaliman basah yang harganya cuma puluhan ribu rupiah di pasar lokal, ternyata dihargai hingga 700 ribu rupiah di Eropa setelah dikemas rapi dalam bentuk andaliman kering.

Halaman Selanjutnya
img_title