Kekeringan Melanda 25 Daerah di Jawa Tengah

Penyaluran bantuan air bersih di Jawa Tengah.
Sumber :
  • Dok

Viva Semarang – Bencana kekeringan mulai melanda berbagai wilayah di Jawa Tengah akibat dampak musim kemarau. Hingga saat ini, krisis air bersih telah melanda 148 desa yang tersebar di 83 kecamatan dan 25 kabupaten/kota.

Kinerja Solid, Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Menyalip Capaian Nasional

Sebanyak 11 pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah daerah terdampak telah menyalurkan air bersih. Data terbaru, ada sebanyak 6,8 juta liter air bersih telah dikirimkan untuk 184.643 jiwa atau sekitar 61.139 keluarga yang terdampak.

Merapi Masih Batuk-batuk, Jangan Lengah

Pasokan air tersebut bersumber dari alokasi APBD provinsi serta kabupaten/kota sebesar 4,85 juta liter. Kemudian ada bantuan CSR, PMI, TNI, dan Polri sebanyak 1,95 juta liter.

Tiga daerah yang mencatatkan penerimaan bantuan air terbanyak sejauh ini adalah Kabupaten Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara.

BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi Laut Selatan Jawa Tengah Bisa Mencapai 4 Meter

Kepala BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, memastikan cadangan pasokan air bersih bagi warga terdampak masih dalam kondisi aman dan mencukupi.

"Masih ada sisa ketersediaan air bersih sekitar 40 juta liter dari total 44,9 juta liter yang disediakan oleh APBD Kabupaten/Kota. Ketersediaan anggaran maupun air bersihnya masih tersedia," kata Bergas saat melaporkan kondisi terkini kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Senin (27/7/26).

Selain krisis air, ancaman kemarau juga memicu lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah. Sepanjang 5 Juni hingga 19 Juli 2026, tercatat 275 peristiwa kebakaran yang didominasi oleh 219 kebakaran gedung atau rumah dengan total kerugian mencapai Rp27 miliar. Sementara itu, 56 kejadian sisanya merupakan kebakaran hutan dan lahan yang utamanya melalap perkebunan tebu dengan kerugian Rp607 juta.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan dampak kemarau harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya menitikberatkan pada kebutuhan konsumsi warga tetapi juga pengairan lahan pertanian guna menjaga target produksi padi daerah.

"Intinya kebutuhan air bersih masih cukup, tinggal distribusi ya," tegasnya.

Gubernur menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk memperketat mitigasi serta memetakan kawasan rawan kekeringan secara detail. Upaya meminimalkan gagal panen di sektor pertanian, Pemprov juga telah berkoordinasi langsung dengan pemerintah pusat untuk pengadaan bantuan pompa air. Langkah ini diharapkan dapat menjaga ketercukupan pasokan air di lahan-lahan pertanian warga selama musim kemarau berlangsung. (TJ)