Pantai Lestari Pati Kumuh Akibat Limbah Tapioka

Pantai Lestari Pati kumuh tercemar sampah dan limbah tapioka.
Sumber :
  • tvOnenews

Viva Semarang – Kawasan wisata Pantai Lestari yang terletak di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini kumuh. Destinasi wisata yang sempat menjadi favorit warga lokal itu tercemar sampah rumah tangga dan limbah tapioka yang mengendap di sepanjang garis pantai.

Gunung Bromo Terbakar, Wisatawan Lewat Mana?

Endapan limbah yang kian menebal ini tak hanya merusak keindahan pesisir, tetapi juga mengubah wajah Pantai Lestari secara drastis.

Kondisi ini memicu keprihatinan dari kalangan warga sekitar. Juriyanto,warga setempat, menilai Pantai Lestari memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pati. Akses jalan jua memadai serta suasana pantai yang masih alami.

BI Jateng Dukung Wisata Jawa Tengah Tancap Gas di 2027

"Pantai ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Sayang, kondisinya justru dipenuhi limbah dan sampah sehingga mengurangi daya tariknya," ujar Juriyanto, Jumat (24/7/26), dikutip dari tvOnenews.

Ia menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak untuk membenahi kawasan tersebut. Sinergi antara masyarakat dan pemerintah dianggap menjadi kunci utama agar pesisir ini dapat kembali memikat wisatawan.

Panduan Lengkap ke Desa Penglipuran Bali: Nikmati Ecotourism Bebas Sampah, Kulineran Khas, dan Serba QRIS!

“Saya berharap pantai ini bisa kembali bersih dan dijaga kebersihannya. Sehingga bisa kembali menarik wisatawan dan mengangkat ekonomi masyarakat sekitar,” tambah Juriyanto.

Masalah pencemaran ini nyatanya bukan hal baru. Kepala Desa Bulumanis Kidul, Susanto, mengungkapkan bahwa pencemaran di Pantai Lestari sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Padahal, pihak pemerintah desa telah berulang kali melakukan upaya pembenahan, seperti penanaman vegetasi dan penataan lingkungan di sepanjang garis pantai seluas satu kilometer tersebut.

"Kami sudah berusaha mempercantik pantai ini karena merupakan aset desa sekaligus warisan yang harus dijaga. Namun, setiap hari kami menerima kiriman sampah dari wilayah hulu melalui dua sungai, yakni Sungai Suatu dan Sungai Pangkalan," terang Susanto.

Susanto menjelaskan bahwa aliran Sungai Suatu dan Sungai Pangkalan membawa sampah rumah tangga serta limbah kulit ari singkong dari industri tapioka di wilayah hulu. Limbah-limbah tersebut bermuara di pesisir hingga akhirnya mengendap dan menutupi permukaan pantai.

Penanganan masalah ini diakui melampaui kapasitas pemerintah desa. Karena sumber pencemaran berasal dari wilayah lain yang dilintasi kedua sungai tersebut, intervensi dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi sangat dibutuhkan. Pihak desa mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat untuk menyelesaikan persoalan limbah lintas wilayah ini demi menyelamatkan potensi wisata Pantai Lestari. (TJ)