Merapi Masih Batuk-batuk, Jangan Lengah
- PVGMBG
Viva Semarang – Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah terus menunjukkan aktivitas vulkanik. Pantauan hingga pukul 12.00 WIB pada Kamis 13 Agustus 2026, Merapi masih batuk-batuk meski tak begitu besar seperti sebelumnya.
Aktivitas vulkanik gunung ini berupa gempa guguran dan gempa fase banyak. Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Kamis, 13 Agustus 2026 pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tingkat aktivitas gunung api tersebut masih dipertahankan pada Level III (Siaga).
Dalam rentang waktu enam jam pengamatan tersebut, Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi, Tri Mujiyanta, mencatat sebanyak 26 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 25 mm dan durasi gempa antara 25,41 hingga 122 detik.
Selain itu, terekam pula 13 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 2 hingga 28 mm, S-P 0,3 hingga 0,6 detik, serta durasi 14,43 hingga 44,52 detik.
Secara visual, Gunung Merapi tampak jelas dengan cuaca cerah, angin bertiup lemah ke arah timur, dan asap kawah teramati nihil.
Meskipun asap kawah tidak terlihat secara kasat mata, tingginya intensitas kegempaan menunjukkan bahwa aktivitas pelepasan energi di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung.
Masyarakat diminta jangan lengah karena potensi bahaya saat ini masih didominasi oleh guguran lava dan awan panas guguran.
Pada sektor Selatan–Barat Daya, ancaman meliputi alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius maksimal 7 kilometer. Sementara untuk sektor Tenggara, alur Sungai Woro terancam hingga jarak 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain ancaman awan panas guguran, masyarakat juga diminta mengantisipasi potensi letusan eksplosif. Jika erupsi eksplosif terjadi, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak gunung.
PVMBG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya yang telah direkomendasikan. Warga sekitar lereng Gunung Merapi serta para wisatawan diharapkan tetap tenang, mewaspadai potensi bahaya lahar terutama saat hujan turun di seputar puncak, serta selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan instansi kebencanaan setempat. (TJ)