ATVSI Ingatkan Generasi Muda: Hoax dan Cyber Crime Bukan Pancasila

Sekjen ATVSI Gilang Iskandar beri kuliah umum di Untag Semarang.
Sumber :
  • Dok

Viva Semarang – Hadirnya media baru berbasis digital ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi menawarkan kemudahan komunikasi, interaksi, dan akses informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun di sisi lain juga membuka pintu risiko serius seperti banjirnya berita bohong atau hoax) dan maraknya kejahatan siber atau cyber crime.

SCU dan Kemenkeu Dorong Mahasiswa Investasi melalui ORI028, Lebih Aman

Peringatan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Gilang Iskandar saat menyampaikan kuliah umum di hadapan sekitar 700 mahasiswa baru Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang, Senin (8/9/2025).

“Karenanya kita harus bijak dalam menggunakan media baru termasuk media sosial. Caranya dengan melakukan cek, ricek, dan tidak mudah membagikan informasi yang diterima. Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada akal sehat kita” tegas Gilang.

Menteri Dikdasmen Bertekad Tingkatan Mutu Pendidikan, Rektor UNNES: Kami Dukung Sepenuhnya

Generasi Digital dan Tantangan Hoax

Generasi muda Indonesia saat ini adalah generasi digital. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, lebih dari 210 juta penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet dengan penetrasi media sosial mencapai lebih dari 85 persen. Mahasiswa, sebagai bagian dari digital natives hampir tak bisa lepas dari gawai, platform pesan instan, dan media sosial. Namun justru kelompok inilah yang paling rentan terpapar informasi menyesatkan.

Kabaharkam Polri Fadil Imran Sebut Konten Hoax Menurun Jelang Hari H Pemilu 2024

Menurut laporan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) sepanjang tahun 2024 terdapat lebih dari 7.000 kasus hoax yang terdeteksi, mulai dari isu politik, kesehatan, bencana alam, hingga keuangan. Tidak sedikit dari hoax tersebut menyasar kalangan muda baik lewat format teks, gambar, maupun video.

Di sinilah peran edukasi menjadi penting. ATVSI sebagai wadah dari sepuluh televisi swasta nasional, merasa perlu hadir memberi pemahaman kepada mahasiswa baru UNTAG Semarang tentang cara melawan arus informasi palsu.

Posisi Strategis Televisi di Tengah Gempuran Digital

Dalam kuliah umum tersebut, Gilang tidak hanya menyoroti bahaya hoax, tetapi juga memaparkan data menarik mengenai industri televisi Indonesia. Menurutnya, meskipun media digital terus tumbuh, televisi free-to-air (FTA) masih memegang peranan penting.

Sepuluh anggota ATVSI yaitu SCTV, INDOSIAR, RCTI, MNCTV, GTV, TRANS TV, TRANS 7, ANTV, TV ONE, dan METRO TV saat ini menguasai 89,3 persen pangsa pemirsa televisi nasional. Dari sekitar 278 juta penduduk Indonesia, 130 juta di antaranya adalah pemirsa televisi. “Dari 130 juta pemirsa tersebut, 116 juta menonton stasiun televisi anggota ATVSI atau 89,3 %. Itu artinya televisi masih menjadi medium utama dalam penyebaran informasi yang kredibel dan terverifikasi,” jelas Gilang.

Halaman Selanjutnya
img_title