Iran Pulang Sebagai Petarung, Bukan Turis

Pemain Iran pulang dengan terhormat sebagai petarung di Piala Dunia 2026.
Sumber :
  • Instagram Timnas Iran Teammelli.

Viva Semarang, Sepak Bola – Piala Dunia 2026 telah usai bagi Iran. Seperti biasa, rombongan tim nasional mereka harus berkemas lebih awal setelah tidak lolos babak 32 Besar. Namun, bagi siapa pun yang memiliki mata dan sedikit nurani, kepulangan mereka patut mendapat karpet merah.

Pemain Argentina Paredes Dilarang Bertanding 10 Kali Laga

Iran sama sekali tidak terlihat seperti rombongan turis yang kalah bersaing lalu sibuk berburu suvenir di bandara. Iran pulang dengan kepala tegak sebagai petarung.

Iran pulang setelah bertanding dengan beban seberat beton jalan tol di pundak mereka.

FIFA Resmi Hukum Para Pemain Argentina, Federasi Berang

Sejak kompetisi belum dimulai, timnas Iran sudah dipaksa melewati "turnamen awal" yang melelahkan di luar lapangan, yaitu diskriminasi dan politisasi olahraga. Salah satunya, mereka harus bertanding di Amerika tapi menginap di Meksiko.

Sungguh mencengangkan, bagaimana sebuah tim sepak bola dituntut untuk menjadi diplomat, aktivis kemanusiaan, sekaligus mesin pencetak gol dalam satu waktu. Sementara tim negara lain hanya perlu fokus menjaga kebugaran otot paha mereka.

Penakluk Argentina Ini Malah Diremehkan Barcelona, Ya Sudah Hengkang Saja

Di saat tim-tim besar sibuk mengeluhkan fasilitas hotel atau suhu pendingin ruangan di stadion, para pemain Iran harus bertanding di bawah tatapan yang lebih tertarik mengunyah politik ketimbang akurasi umpan silang dan tekel bersih.

Tekanan psikologis, cemoohan dari tribun yang datang dari berbagai sudut kepentingan, hingga sanksi tidak tertulis yang membayangi gerak-gerik mereka di luar lapangan telah sukses melengkapi penderitaan tersebut.

Hebatnya, otoritas sepak bola dunia yang biasanya sangat gemar mengumandangkan jargon "jauhkan politik dari sepak bola" mendadak terserang amnesia saat diskriminasi berlapis ini menimpa skuad Iran.

Namun, di atas rumput hijau, drama-drama itu menguap menjadi determinasi yang menyala. Iran tidak menyajikan sepak bola yang manja. Mereka berlari sampai paru-paru mereka terasa mau copot. Mereka menekel seolah itu adalah hari terakhir mereka merumput. Iran menantang raksasa-raksasa dunia dengan sisa-sisa energi yang diperas dari rasa harga diri.

Mereka barangkali kehilangan poin di papan skor, tetapi mereka memenangkan rasa hormat yang gagal dibeli oleh tim-tim manja berlabel bintang yang langsung loyo begitu diterpa sedikit kritik media.

Halaman Selanjutnya
img_title