VARgentina Jadi Momok Piala Dunia
- Reuters
Viva Semarang, Sepak Bola – Argentina terus disorot terkait laju mereka hingga semifinal Piala Dunia 2026. Pasalnya, Argentina beberapa meraih kemenangan yang berbau kontroversial yang melibatkan wasit dan VAR atau Video Assistant Referee.
Rentetan protes keras dari tim lawan pun datang bergelombang terkait keadilan kepemimpinan wasit. Di jagat maya, spekulasi liar yang menuduh adanya keberpihakan sistematis kepada Lionel Messi dan kawan-kawan kian membara. Dan kini muncul istilah satire "VARgentina" dari para kritikus. Bahkan ada yang secara ekstrem menuduh ini sebagai skandal di Piala Dunia.
Lawan Argentina pun kini menganggap VARgentina sebagai momok Piala Dunia.
Ketegangan mencapai puncaknya pada laga perempat final hari Sabtu lalu, saat Argentina menyingkirkan Swiss. Keputusan mengusir penyerang Swiss, Breel Embolo, melalui kartu kuning kedua akibat dinilai melakukan aksi pura-pura jatuh memicu kontroversi besar.
Mengutip Reuters, pelatih Swiss, Murat Yakin, secara terbuka mengecam keputusan yang lahir dari intervensi VAR tersebut sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima.
Ketika dikonfirmasi mengenai kegaduhan ini, otoritas tertinggi sepak bola dunia, FIFA, memilih bersikap defensif dengan merujuk pada pernyataan kepala perwasitan Pierluigi Collina yang sebelumnya telah membantah adanya bias serupa saat Argentina menumbangkan Mesir di babak 16 besar.
Di balik riak protes tersebut, masalah mendasar sebenarnya terletak pada penerapan perluasan protokol VAR mengenai kesalahan identifikasi (mistaken identity). Aturan baru yang baru saja diperkenalkan untuk musim 2026–2027 dan Piala Dunia ini dinilai terlalu dipaksakan tanpa melalui pengujian yang matang di kompetisi domestik.
Christina Unkel, mantan wasit FIFA yang kini aktif sebagai analis aturan pertandingan untuk stasiun televisi Inggris ITV, menilai bahwa protokol tersebut terlalu bias dan melenceng dari filosofi dasar kehadiran VAR.
Menurut analisis Unkel, intervensi teknologi dalam kasus ini tidak sekadar mengoreksi siapa pemain yang harus menerima hukuman kartu, melainkan telah mengubah substansi arah keputusan lapangan secara radikal. Ini seperti membalikkan arah tendangan bebas ke kubu yang berlawanan.
Praktik ini secara resmi telah menyeret sistem perwasitan ke dalam wilayah re-refereeing atau memimpin ulang pertandingan dari bilik video. Ini menjadi sebuah area abu-abu yang selama bertahun-tahun dihindari demi menjaga otoritas mutlak wasit utama di lapangan hijau.