Gunung Semeru Bergejolak di Tengah Kebakaran Bromo

Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur.
Sumber :
  • Instagram @gunungindonesi-

Viva Semarang, Lumajang – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru dilaporkan bergejolak di tengah situasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo.

Bromo Kembali Dibuka Mulai Hari Ini

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat frekuensi kegempaan yang cukup tinggi di gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Hal ini menandakan gejolak magma di dalam perut bumi yang masih sangat aktif dan sewaktu-waktu bisa membuat Semeru meletus.

Berdasarkan laporan resmi MAGMA ESDM pada periode pengamatan terkini, Pos Pengamatan Gunung Api Semeru merekam terjadinya 116 kali gempa letusan atau erupsi dengan durasi berkisar antara 48 hingga 121 detik.

Merapi Masih Batuk-batuk, Jangan Lengah

Selain gempa letusan, peralatan seismik juga mendeteksi 4 kali gempa guguran, 8 kali gempa hembusan, 2 kali getaran harmonik, serta 5 kali gempa tektonik jauh.

Atas deretan aktivitas tersebut, status Gunung Semeru hingga saat ini masih bertahan pada Level III Siaga.

Ribuan Wisatawan Berbondong-bondong Refund Tiket Bromo Imbas Kebakaran

Kondisi gejolak vulkanik yang berbarengan dengan cuaca kering di kawasan lereng Bromo dan Semeru memperbesar potensi risiko bencana ganda bagi warga pemukim maupun aktivitas di sekitar kawasan pegunungan. 

Meskipun puncak gunung secara visual sempat terlihat jelas sebelum tertutup kabut dan asap kawah tidak teramati secara langsung, potensi bahaya sekunder tetap mengintai area-area di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak gunung.

Pihak otoritas mitigasi bencana mengeluarkan penegasan agar tidak ada aktivitas warga pada sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi. 

Masyarakat di luar jarak tersebut juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena ancaman aliran lahar dan perluasan awan panas yang bisa menjangkau hingga jarak 17 kilometer.

Selain itu, zona berbahaya juga diberlakukan untuk radius 5 kilometer dari kawah utama guna menghindari risiko bahaya dari lontaran batu pijar.

Masyarakat setempat diminta terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran, guguran lava, serta ancaman lahar hujan di sepanjang daerah aliran sungai utama seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Petugas gabungan bersama pemerintah daerah kini terus bersiaga menjaga area rawan untuk meminimalkan dampak bencana. (TJ)