Lahan di Tol Trans Jawa Pejagan Brebes Terbakar
- Dok
Viva Semarang, Brebes – Kebakaran lahan melanda kawasan Jalan Tol Pejagan KM 248, Kabupaten Brebes, pada Kamis (23/7/2026). Kobaran api yang disertai asap pekat sempat mengancam pandangan pengendara dan berpotensi meluas akibat angin kencang serta cuaca panas.
Beruntung, Tim Patroli Sat Samapta Polres Brebes bergerak dan mengerahkan kendaraan Armoured Water Cannon (AWC) untuk memadamkan api sebelum berdampak lebih parah.
Peristiwa ini membuka mata bahwa kebakaran hutan dan lahan di Jawa Tengah selama puncak musim kemarau masih berpotensi terjadi.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol. Artanto, memaparkan bahwa berdasarkan analisis BMKG, wilayah Jawa Tengah sedang dipengaruhi Monsun Australia yang membawa massa udara kering hingga Agustus 2026.
"Kondisi tersebut membuat kelembapan udara menurun drastis dan vegetasi kering menjadi sangat mudah terbakar," kata Artanto.
Polda Jawa Tengah mencatat sepanjang 1 hingga 11 Juli 2026 saja telah terjadi 16 kasus kebakaran lahan di berbagai wilayah. Sebagian besar kebakaran terjadi pada jam rawan antara pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, saat suhu berada pada titik tertinggi.
Lahan tebu menjadi objek yang paling rawan terbakar, seperti yang dilaporkan di Kudus, Pati, Sragen, dan Batang. Selain itu, kebakaran juga melanda area lahan kosong, tempat sampah, dan kawasan hutan. Bahkan, insiden kelalaian pembakaran lahan tebu di Batang sempat menelan satu korban jiwa dan merugi lebih dari Rp649 juta.
Artanto mengimbau masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembakaran sampah, lahan, maupun sisa panen secara sembarangan.
Selain membahayakan keselamatan pengguna jalan akibat asap, pembakaran lahan juga memicu kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi yang besar.
Polda Jawa Tengah kini menginstruksikan seluruh jajaran kepolisian untuk meningkatkan patroli di jam rawan, memperkuat deteksi dini, serta berkoordinasi intensif dengan BPBD, Pemadam Kebakaran, dan pemerintah daerah setempat.
Kepolisian meminta masyarakat turut aktif menjaga lingkungan dan segera melaporkan temuan titik api agar dapat ditangani secara cepat. (TJ)